Hari/ Tanggal :
Jum’at/ 22 Februari 2013 Nama
Asisten :
Nama :
Muhamad Supika Nadilla Ambarfauziah R
NRP :
B04120056
Kelompok :
1
STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM
PEMBANGUNAN
Penilitian
Di Tiga Desa Santri
Oleh: Sunyoto Usman
Dalam pandangan masyarakat umum, kelompok elit sering berkonotasi negatif, tetapi tidak halnya dalam sosiologi. Dalam sosiologi konsep Elit biasanya didefinisikan sebagai anggota suatu kelompok kecil dalam masyarakat yang tergolong disegani, dihormati,menjabat di intansi formal maupun tidak formal, serta kaya. Mereka adalah kelompok minoritas superior, dan mereka diharapkan dapat berbuat nyata bagi kepentingan bersama. Sedangkan massa adalah kelompok mayoritas inferior, posisinya pun berada dalam stratifkasi masyarakat bawah, serta kurang diperhatikan dalam proses pengambilan suara. Ada dua penjelasan pendapat tentang kelahiran kelompok elit yaitu lahir secara alami dan lahir akibat kompleksitas organisasi sosial. Kelompok elit juga diisi oleh informal leaders. Dalam masyarakat masih ditemukan tipologi elit lain yang berada di luar garis birokrasi (non-legitimated elits).
Salah
satu implikasi dari tendesi seperti itu adalah bahwastudi masalah elit dalam
kaitannya dengan aktivitas pembangunan seharusnya perlu mencakup pula peranan
elit yang berada di luar garis birokrasi. Fenomena desa santri dalam studi
masalah pembangunan dan struktur interaksi kelompok elit tampil menjadi episode
yang menarik karena di desa lazimnya masih ada dominasi figur tokoh agama.
Walaupun perencanaan organisasi, pengawasan serta alokasi dana banyak
ditentukan oleh pemerintah pusat, tetapi implementasi banyak melibatkan anggota
masyarakat dalam jumlah mayoritas. Dalam keadaan tersebut kelompok elit banyak
banyak terlibat dan mengambil inisiatif dalam mngambil keputusan penting. Hampir
setiap elit saling berinteraksi membentuk jaringan sosiometris, meskipun
panjangnya berbeda-beda. Ada tiga macam pendekatan yang digunakan untuk
mengindetifikasi kelompok elit, yaitu : positional
approach, reputational approach, decisonal approach. Perlu diketahui bahwa
boleh jadi seorang elit dari kategori atau pemuka agama memiliki tanah yang
relatif luas di desanya dan pekerjaannya juga sebagai petani masih tetap
dikategorikan sebagai elit petani.
Ada
dua alasan penting mengapa tiga desa santri dalam wilayah Kabupaten Jombang,
Jawa Timur, dipilih sebagai lokasi penelitian, yaitu : banyak jumlah anggota
masyarakat yang menjadi pengikut thoriqot Qodiriyah Naqsabandiyah, anggota
masyarakat ketiga desa tersebut memiliki daya dukung yang kuat terhadap
ketahanan organisasi sosial politik islam.
Dalam
menghitung data, penelitian ini menggunakan progaram komputer network analysis yang dirancang oleh
Robert Kylberg (1986). Kedudukan elit dalam jaringan dapat dikategorikan
manjadi tiga macam, yaitu : the liaison,
the bridge, the ember, the isolated. Dalam kehidupan masyarakat desa yang
relatif masih terisolir, mempertahankan struktur macam itu tidak terlalu
menjadi masalah karena kepentingan politik mereka belum terlalu kompleks.
Sedangkan dalam kehidupan masyrakat desa yang terbuka, kebutuhan sosial tidak
lagi bersahaja, sebab tuntutan dan kemauan anggota masyarakat mulai majemuk.
Hasil yang didapat dari penelitian, bahwa kelompok elit pamong desa (yang
menempati jabatan formal) ternyata memiliki angka tinggi baik dalam koneksi
maupun integrasi dibandingkan dengan kelompok elit pemuka agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar