Kamis, 28 Maret 2013

Resume sosiologi umum tentang STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN Penilitian Di Tiga Desa Santri



Hari/ Tanggal  : Jum’at/ 22 Februari 2013                  Nama Asisten  :
Nama               : Muhamad Supika                              Nadilla Ambarfauziah R
NRP                : B04120056                           
Kelompok       : 1
                                               
STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penilitian Di Tiga Desa Santri
Oleh: Sunyoto Usman

            Dalam pandangan masyarakat umum, kelompok elit sering berkonotasi negatif, tetapi tidak halnya da
lam sosiologi. Dalam sosiologi konsep Elit biasanya didefinisikan sebagai anggota suatu kelompok kecil dalam masyarakat yang tergolong disegani, dihormati,menjabat di intansi formal maupun tidak formal, serta kaya. Mereka adalah kelompok minoritas superior, dan mereka diharapkan dapat berbuat nyata bagi kepentingan bersama. Sedangkan massa adalah kelompok mayoritas inferior, posisinya pun berada dalam stratifkasi masyarakat bawah, serta kurang diperhatikan dalam proses pengambilan suara. Ada dua penjelasan pendapat tentang kelahiran kelompok elit yaitu lahir secara alami dan lahir akibat kompleksitas organisasi sosial. Kelompok elit juga diisi oleh informal leaders. Dalam masyarakat masih ditemukan tipologi elit lain yang berada di luar garis birokrasi (non-legitimated elits).
            Salah satu implikasi dari tendesi seperti itu adalah bahwastudi masalah elit dalam kaitannya dengan aktivitas pembangunan seharusnya perlu mencakup pula peranan elit yang berada di luar garis birokrasi. Fenomena desa santri dalam studi masalah pembangunan dan struktur interaksi kelompok elit tampil menjadi episode yang menarik karena di desa lazimnya masih ada dominasi figur tokoh agama. Walaupun perencanaan organisasi, pengawasan serta alokasi dana banyak ditentukan oleh pemerintah pusat, tetapi implementasi banyak melibatkan anggota masyarakat dalam jumlah mayoritas. Dalam keadaan tersebut kelompok elit banyak banyak terlibat dan mengambil inisiatif dalam mngambil keputusan penting. Hampir setiap elit saling berinteraksi membentuk jaringan sosiometris, meskipun panjangnya berbeda-beda. Ada tiga macam pendekatan yang digunakan untuk mengindetifikasi kelompok elit, yaitu : positional approach, reputational approach, decisonal approach. Perlu diketahui bahwa boleh jadi seorang elit dari kategori atau pemuka agama memiliki tanah yang relatif luas di desanya dan pekerjaannya juga sebagai petani masih tetap dikategorikan sebagai elit petani.
            Ada dua alasan penting mengapa tiga desa santri dalam wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dipilih sebagai lokasi penelitian, yaitu : banyak jumlah anggota masyarakat yang menjadi pengikut thoriqot Qodiriyah Naqsabandiyah, anggota masyarakat ketiga desa tersebut memiliki daya dukung yang kuat terhadap ketahanan organisasi sosial politik islam.
            Dalam menghitung data, penelitian ini menggunakan progaram komputer network analysis yang dirancang oleh Robert Kylberg (1986). Kedudukan elit dalam jaringan dapat dikategorikan manjadi tiga macam, yaitu : the liaison, the bridge, the ember, the isolated. Dalam kehidupan masyarakat desa yang relatif masih terisolir, mempertahankan struktur macam itu tidak terlalu menjadi masalah karena kepentingan politik mereka belum terlalu kompleks. Sedangkan dalam kehidupan masyrakat desa yang terbuka, kebutuhan sosial tidak lagi bersahaja, sebab tuntutan dan kemauan anggota masyarakat mulai majemuk. Hasil yang didapat dari penelitian, bahwa kelompok elit pamong desa (yang menempati jabatan formal) ternyata memiliki angka tinggi baik dalam koneksi maupun integrasi dibandingkan dengan kelompok elit pemuka agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar