Hari/ Tanggal : Jum’at/ 08 Februari 2013 Nama
Asisten :
Nama :
Muhamad Supika Nadilla Ambarfauziah R
NRP :
B04120056
Kelompok :
1
SISTEM
PONDOK
Oleh: Wariso Ram
Migran sosial berasal
dari keluarga yang tidak mampu tetapi mereka adalah pekerja yang rajin memiliki
kemampuan pemasaran hasil, serta pengalaman bekerja yang lumayan. Bidang usaha
mereka adalah “usaha sisa”, karena bentuknya yang padat karya maka diperlukan
kerjasama. “Azas kerukunan” atau “azas kekeluargaan” menjadi sendi utama,
walaupun tujuan utama adalah kentungan ekonomi. Tetapi karena azas itu lah
semua pihak mendapat keuntungan.
Macam-macam sistem
pondok yang dipandang dari besarnya sumbangan tenaga kerja migran sirkuler
(penghuni pondok boro) dalam proses produksi dan penjualan hasil tergolong
dalam 4 kelompok. Pertama, sistem pondok dimana setiap anggota mempunyai
kedudukan yang sama. Jumlah anggota antara 8-12 orang. Contohnya di Kotamadya
Bogor, sistem ini dilakukan oleh para migran sirkuler dari Demak dengan menjual
keramik dari Kecamatan Mayong (Kabupaten Kudus, Jateng). Sistem ini dilandasi
azas kekeluargaan atau azas kegotongroyongan yang cukup kuat karena didalamnya
terdapat hubungan yang erat antara anggota yang satu dengan yang lainnya,
dengan hasil keuntungan dibagi sama rata sehingga sistem ini disebut sistem
pondok gotong royong.
Kedua, Sistem pondok
rumah tangga Sistem ini biasanya dilaksanakan dengan menggunakan tenaga migran
sirkuler yang berasal dari desa yang “jauh”. Antara pemilik pondok boro dan
para pembantunya terdapat hubungan yang dilandasi azas kekeluargaan. Belum ada
pembagian tugas membuat barang dan menjual hasil, belum menggunakan teknologi
dalam proses produksi dan ada keharusan
hasil produksi terjual pada hari yang sama untuk keuntungan yang lebih besar.
Ketiga, Sistem pondok
usaha perorangan, sistem ini sudah membagi tenaga produksi dan tenaga pemasar.
Pemilik mengelola proses produksi dan juda pemasaran. Akan tetapi hubungan
majikan dan karyawan lebih erat dari pada hubungan majikan dengan penjual. Di
dalam sistem ini sudah menggunakan teknologiterdapat sejumlah karyawan dan
puluhan penjual.
Keempat, sistem pondok
dimana pemilik pondok tidak terlibat dalam kegiatan produksi maupun pemasaran
barang tetapi hanya menyewakan tempat penginapan, alat-alat dan mesin. Sehingga
para migran sirkuler berperan sebagai penyewa, produsen kecil, dan penjual
hasil produksinya. Disini terlihat sistem kekeluargaan kurang erat. Sistem ini
dilaksanakan pondok boro produksi tahu oleh migran sirkuler Ciamis dan
Cimanggu. Karena pemilik pondok dan migran sirkuler ditandai hubungan sewa
menyewa, maka disebut sistem pondok sewa. Disamping keempat sistem itu, sistem
pondok campuran dan sistem pondok tidak mempunyai karyawan. Jika dilihat dari
jenis kegiatan penghuninya, sistem boro dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu
pondok boro buruh, pondok boro penjual, dan pondok boro produksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar