Rabu, 27 Maret 2013

resume sosiologi umum : Sistem Pondok



Hari/ Tanggal  : Jum’at/ 08 Februari 2013                  Nama Asisten  :
Nama               : Muhamad Supika                             Nadilla Ambarfauziah R
NRP                : B04120056                          
Kelompok       : 1
                                               
SISTEM PONDOK
Oleh: Wariso Ram
Migran sosial berasal dari keluarga yang tidak mampu tetapi mereka adalah pekerja yang rajin memiliki kemampuan pemasaran hasil, serta pengalaman bekerja yang lumayan. Bidang usaha mereka adalah “usaha sisa”, karena bentuknya yang padat karya maka diperlukan kerjasama. “Azas kerukunan” atau “azas kekeluargaan” menjadi sendi utama, walaupun tujuan utama adalah kentungan ekonomi. Tetapi karena azas itu lah semua pihak mendapat keuntungan. 
Macam-macam sistem pondok yang dipandang dari besarnya sumbangan tenaga kerja migran sirkuler (penghuni pondok boro) dalam proses produksi dan penjualan hasil tergolong dalam 4 kelompok. Pertama, sistem pondok dimana setiap anggota mempunyai kedudukan yang sama. Jumlah anggota antara 8-12 orang. Contohnya di Kotamadya Bogor, sistem ini dilakukan oleh para migran sirkuler dari Demak dengan menjual keramik dari Kecamatan Mayong (Kabupaten Kudus, Jateng). Sistem ini dilandasi azas kekeluargaan atau azas kegotongroyongan yang cukup kuat karena didalamnya terdapat hubungan yang erat antara anggota yang satu dengan yang lainnya, dengan hasil keuntungan dibagi sama rata sehingga sistem ini disebut sistem pondok gotong royong.
Kedua, Sistem pondok rumah tangga Sistem ini biasanya dilaksanakan dengan menggunakan tenaga migran sirkuler yang berasal dari desa yang “jauh”. Antara pemilik pondok boro dan para pembantunya terdapat hubungan yang dilandasi azas kekeluargaan. Belum ada pembagian tugas membuat barang dan menjual hasil, belum menggunakan teknologi dalam proses produksi  dan ada keharusan hasil produksi terjual pada hari yang sama untuk keuntungan yang lebih besar.
Ketiga, Sistem pondok usaha perorangan, sistem ini sudah membagi tenaga produksi dan tenaga pemasar. Pemilik mengelola proses produksi dan juda pemasaran. Akan tetapi hubungan majikan dan karyawan lebih erat dari pada hubungan majikan dengan penjual. Di dalam sistem ini sudah menggunakan teknologiterdapat sejumlah karyawan dan puluhan penjual.
Keempat, sistem pondok dimana pemilik pondok tidak terlibat dalam kegiatan produksi maupun pemasaran barang tetapi hanya menyewakan tempat penginapan, alat-alat dan mesin. Sehingga para migran sirkuler berperan sebagai penyewa, produsen kecil, dan penjual hasil produksinya. Disini terlihat sistem kekeluargaan kurang erat. Sistem ini dilaksanakan pondok boro produksi tahu oleh migran sirkuler Ciamis dan Cimanggu. Karena pemilik pondok dan migran sirkuler ditandai hubungan sewa menyewa, maka disebut sistem pondok sewa. Disamping keempat sistem itu, sistem pondok campuran dan sistem pondok tidak mempunyai karyawan. Jika dilihat dari jenis kegiatan penghuninya, sistem boro dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu pondok boro buruh, pondok boro penjual, dan pondok boro produksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar